Mahkota dan Sangkar Emas
Dua puluh tujuh anak tangga marmer. Tiga puluh dua tusukan jarum pentul di gaun. Seratus sorot mata yang mengagumi.
"Tegakkan mahkotamu, Putriku," bisik Ratu Isolde sambil menata untaian mutiara di leher Salju. "Hari ini para pangeran dari Utara datang meminangmu."
Putri Salju mengatupkan kelopak mata sehitam malam itu. Di balik riasan sempurna, pipinya yang seputih salju berkerut dalam kepedihan. "Ibu, bisakah aku—"
"Tidak." Ratu memotong dengan senyum manis yang membuat para dayang bergetar. "Kau tahu aturannya. Satu kata tentang buku-bukumu yang kotor itu, satu gerakan yang tidak anggun, dan seluruh kerajaan akan kecewa."
Di ruang singgasana, enam pangeran berebut memuji kecantikannya. Yang ketujuh—seorang pangeran muda dengan mata jernih—berani bertanya: "Apa kegemaran Putri Salju selain berdiam di taman?"
Ruang itu mendadak senyap.
Ratu Isolde tertawa getir. "Kegemarannya? Menjadi permata kerajaan kita, tentu saja."
Malam itu, di kamarnya yang dingin, Salju menghancurkan cermin peraknya.
Rahasia di Balik Duri
"Yang Mulia, desas-desus tentang Hutan Terlarang semakin menjadi," lapor Penasihat Kerajaan dengan suara bergetar.
Ratu Isolde mencengkeram singgasananya. "Apa lagi yang dilakukan monster itu?"
"Katanya... dia melukis. Dan burung-burung berkicau untuknya."
"Omong kosong!" Ratu menghancurkan buah delima di tangannya, merahnya mengalir seperti darah di lantai. "Tidak ada yang boleh mendekati hutan itu! Terutama—" matanya menyapu ke arah putrinya yang sedang diam-diam membaca buku di sudut, "—terutama kalian yang membawa nama baik keluarga."
Tapi malam itu, Putri Salju menyelinap keluar. Dengan jubah penyamaran dan sepatu bot usang, ia melangkah ke hutan di mana pepohonan berbisik dalam bahasa yang terlupakan.
"Berhenti."
Suara itu mengiris kegelapan. Dari balik kabut, muncul sosok bertudung hitam dengan tangan seperti akar kering. Ketika ia menarik tudungnya, Salju menahan jerat—wajahnya seperti topeng kayu yang hidup, dengan retakan-retakan mengeluarkan cahaya keemasan.
"Kau berani sekali, Putri." Pangeran itu—Alistair—menggeram. "Atau sangat bodoh."
Salju menelan ludah. "Aku hanya ingin tahu kebenaran."
"Kebenaran?" Dia tertawa pahit. "Tanyakan pada ibumu yang tega mengutuk anak berusia tujuh tahun hanya karena ayahku menolak pinangannya!"
Dua Dunia yang Bertabrakan
"Di mana kau semalam?" Ratu Isolde menghantam meja makan sampai piring-piring bergetar.
Salju mengangkat dagu. "Aku menemukan sesuatu yang lebih berharga dari pujian, Ibu. Sebuah kebenaran."
Wajah ratu berubah pucat. "Apa yang dia katakan padamu?"
"Bahwa kutukan itu berasal dari dendammu!"
Ruangan berputar. Ratu Isolde menjatuhkan piala anggurnya. "Dia... dia seharusnya mati di hutan itu! Bukan menjadi hantu yang menggangguku!"
Di hari-hari berikutnya, Salju terus mengunjungi Alistair. Di istana kayunya yang tersembunyi, ia menemukan lukisan-lukisan yang membuatnya menangis—potret seorang ibu muda dengan mata mirip Ratu Isolde, tapi penuh kasih.
"Itu ibumu," bisik Alistair. "Sebelum kekuasaan mengubahnya."
Pengkhianatan dan Air Mata Berdarah
Ratu Isolde tidak tinggal diam. Di bawah bulan purnama, ia menyihir burung gagak menjadi mata-matanya.
"Apa yang kau lakukan dengan putriku, monster?" ratu berteriak ketika akhirnya menyerbu istana kayu.
Alistair berdiri tegak. "Aku memberinya apa yang tak pernah kau berikan—kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri."
Dengan gerakan cepat, Ratu Isolde mengeluarkan pisau berkilau. "Kalau begitu, kau akan melihat apa yang terjadi ketika seseorang merebut milikku!"
Salju menerjang. "Tidak!"
Darah mengucur—bukan dari Alistair, tapi dari lengan Salju yang terluka.
Ratu Isolde tercekat. "Kau... kau melindunginya?"
"Dia lebih sebagai ibu bagiku dalam sebulan ini daripada Ibu dalam sembilan belas tahun!" teriak Salju, air matanya bercampur darah.
Kutukan yang Terungkap
Hutan mendadak bergemuruh. Dari kabut muncul Penyihir Tertinggi Eldoria—perempuan tua yang selama ini menyamar sebagai dayang ratu.
"Sudah cukup, Isolde," kata penyihir itu. "Kutukan ini bukan untuk Alistair, tapi untukmu. Untuk mengujimu—apakah kau bisa belajar mencintai sesuatu tanpa ingin menguasainya."
Ratu Isolde jatuh berlutut. "Aku... aku tidak—"
"Cermin!" perintah penyihir.
Sebuah cermin ajaib muncul, memperlihatkan bayangan Ratu Isolde yang sebenarnya—wajahnya perlahan berubah menjadi kayu, persis seperti Alistair dulu.
"Tidak! Ini tidak adil!" ratu menjerit.
Salju maju. "Ada satu cara untuk mematahkan kutukan, Ibu. Akui kesalahanmu. Lepaskan kebencianmu."
Dalam kesunyian yang mencekam, Ratu Isolde akhirnya menangis. "Aku... aku iri. Karena Alistair tetap bisa mencintai meski dikutuk, sementara aku yang memiliki segalanya justru kosong."
Cermin yang Memperbaiki
Tahun-tahun berlalu. Istana Eldoria kini memiliki dua singgasana—satu untuk Ratu Isolde yang telah berubah, satu untuk Putri Salju dan Pangeran Alistair yang wajahnya tetap bersahaja tapi dipenuhi cahaya kebijaksanaan.
Di dinding utama, tergantung lukisan terbesar Alistair: seorang gadis dengan rambut hitam berdiri di antara dua dunia—satu penuh kemilau palsu, satu penuh kehangatan sejati.
Dan di bingkainya, terukir kata-kata:
"Kecantikan sejati adalah ketika kau berani melihat bayanganmu sendiri—lalu tetap memilih untuk menjadi cahaya."
THE END
Fadllan Achadan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomentar menggunakan bahasa yang baik dan sopan :-)