Bagian 1: Pertemuan dengan Sang Malaikat
Malam itu, langit tampak gelap gulita, hanya diterangi oleh cahaya bulan purnama yang memancar lembut, seolah-olah alam semesta sedang menahan napas menanti kehadiran sang bayi. Bintang-bintang yang biasanya berkelap-kelip seakan bersembunyi di balik awan tebal, meninggalkan bulan sebagai satu-satunya saksi bisu dari peristiwa penting yang akan segera terjadi. Angin berhembus sepoi-sepoi, membawa hawa dingin yang menusuk tulang, membuat dedaunan di pepohonan bergemerisik seperti bisikan-bisikan rahasia yang hanya bisa dimengerti oleh malam.
Di sebuah jalan sepi di pinggiran kota, sepasang suami istri, Arman dan Lina, sedang bergegas menuju rumah sakit. Mobil mereka melaju pelan namun pasti, menghindari lubang-lubang kecil di jalan yang sudah mulai rusak. Lina, yang sedang hamil tua, terlihat kesakitan. Wajahnya yang biasanya cerah kini dipenuhi oleh kerutan akibat rasa sakit yang datang silih berganti. Tangannya erat memegangi perutnya, sementara napasnya tersengal-sengal. Kontraksi sudah mulai datang tak teratur, dan mereka tahu, waktu kelahiran sang bayi semakin dekat.
Arman, yang duduk di sebelahnya, mencoba tetap tenang meski hatinya berdebar-debar. Matanya sesekali melirik ke arah Lina, memastikan bahwa istrinya baik-baik saja. Tangannya yang satu memegang kemudi dengan erat, sementara yang lain sesekali meraih tangan Lina, memberikan usapan lembut sebagai bentuk dukungan dan kekuatan. "Tenang, Lin, kita hampir sampai," ujarnya dengan suara yang berusaha meyakinkan, meski sebenarnya dia sendiri merasa cemas.
Jalan yang mereka lalui sepi, hanya sesekali mereka berpapasan dengan kendaraan lain. Lampu jalan yang redup menciptakan bayangan-bayangan panjang di aspal, seolah-olah mengiringi perjalanan mereka menuju rumah sakit. Suara mesin mobil yang halus hampir tidak terdengar, tertutup oleh desahan Lina yang semakin sering. Arman mencoba mengalihkan perhatian Lina dengan menceritakan hal-hal kecil, tentang bagaimana mereka akan menyambut bayi mereka, tentang kamar bayi yang sudah mereka siapkan, dan tentang nama-nama yang sudah mereka pilih.
Lina mencoba tersenyum, meski rasa sakit yang datang membuatnya sulit untuk fokus. Dia mengingat kembali perjalanan mereka selama ini, dari awal mengetahui kehamilannya, hingga malam ini, di mana mereka akan segera menjadi orang tua. Dia merasa bersyukur memiliki Arman di sampingnya, seseorang yang selalu ada dalam suka dan duka. "Arman, aku tidak sabar untuk melihat wajahnya," bisik Lina lembut, sambil menahan rasa sakit yang kembali datang.
"Tenang, Lin, kita hampir sampai," ujar Arman mencoba menenangkan istrinya yang terus merintih kesakitan. Tangan Lina menggenggam erat tangan suaminya, sambil menahan napas setiap kali rasa sakit melanda.
Mobil mereka melaju pelan, mengikuti jalan berliku yang sepi. Tiba-tiba, dari kejauhan, terlihat seorang kakek tua dengan tongkat di tangannya, mencoba menyeberang jalan. Kakek itu terlihat lemah, langkahnya tertatih-tatih, dan sepertinya kesulitan untuk menyeberang sendirian.
Arman, yang memiliki hati yang baik, segera menghentikan mobilnya. "Lina, tunggu sebentar, aku mau bantu kakek itu menyeberang," katanya sambil membuka pintu mobil.
Lina mengangguk, meski wajahnya masih memerah menahan sakit. "Hati-hati, Arman."
Arman segera turun dan menghampiri kakek itu. "Kakek, izinkan saya membantu Anda menyeberang," ujarnya dengan sopan.
Kakek itu menatap Arman dengan mata yang dalam, seolah bisa melihat langsung ke dalam jiwa. "Terima kasih, Nak. Kau baik sekali," ujar sang kakek dengan suara yang lembut namun penuh wibawa.
Dengan hati-hati, Arman memapah kakek itu menyeberang jalan. Saat mereka sampai di seberang, kakek itu tiba-tiba memegang tangan Arman dengan erat. "Nak, kebaikanmu tidak akan sia-sia. Kau dan istrimu akan segera dikaruniai seorang anak yang luar biasa. Anak itu akan membawa berkah bagi dunia."
Arman terkejut, tapi sebelum sempat bertanya lebih lanjut, kakek itu tiba-tiba menghilang begitu saja, seolah-olah menyatu dengan kegelapan malam. Arman berdiri terpaku, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dia menggosok-gosok matanya, mencoba memastikan bahwa itu bukan halusinasi.
"Arman! Ayo, cepat! Aku rasa bayinya akan segera lahir!" teriak Lina dari dalam mobil, memecah lamunan Arman.
Arman segera berlari kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan mereka ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, pikirannya masih dipenuhi oleh kejadian aneh tadi. Siapa kakek itu? Dan apa maksudnya dengan anak yang luar biasa?
Sesampainya di rumah sakit, Lina segera dibawa ke ruang bersalin. Arman menunggu di luar dengan perasaan campur aduk: cemas, gembira, dan penuh tanda tanya. Beberapa jam kemudian, terdengar tangisan bayi yang keras dari dalam ruangan. Dokter keluar dengan senyum lebar.
"Selamat, Pak. Istrimu melahirkan bayi laki-laki yang sehat," kata dokter itu.
Arman segera masuk ke ruangan dan melihat bayi mungil yang sedang digendong oleh Lina. Bayi itu memiliki mata yang cerah, seolah-olah sudah bisa melihat dunia dengan penuh kesadaran. Saat Arman mendekat, bayi itu menatapnya dengan tatapan yang dalam, seolah-olah mengenali ayahnya.
"Arman, lihatlah anak kita," bisik Lina dengan mata berkaca-kaca. "Dia tampak gagah sekali."
Arman mengangguk, tapi hatinya masih dipenuhi oleh kejadian aneh tadi. Dia teringat kata-kata sang kakek: "Anak itu akan membawa berkah bagi dunia."
Malam itu, saat semua sudah tenang dan Lina tertidur lelah, Arman duduk di samping boks bayi, memandangi putranya yang sedang tidur nyenyak. Dia merenung, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Apakah kakek itu benar-benar seorang malaikat? Dan apa arti dari semua ini?
Tiba-tiba, bayi itu membuka matanya dan menatap Arman. Dalam sekejap, Arman merasa ada sesuatu yang berbeda. Mata bayi itu memancarkan cahaya keemasan, seolah-olah ada kekuatan besar yang tersembunyi di dalamnya.
"Oziel," bisik Arman tiba-tiba, seolah-olah nama itu muncul begitu saja di benaknya. "Aku akan memanggilmu Oziel."
Bayi itu tersenyum kecil, seolah-olah setuju dengan nama yang diberikan ayahnya. Arman merasa ada ikatan yang kuat antara dirinya dan anaknya, ikatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Esok paginya, Arman menceritakan kejadian aneh itu kepada Lina. Lina awalnya tidak percaya, tapi saat dia melihat mata Oziel yang cerah dan penuh cahaya, dia mulai merasa bahwa mungkin ada sesuatu yang istimewa tentang anak mereka.
"Arman, mungkin kita memang diberkati," ujar Lina sambil menggendong Oziel. "Tapi apapun yang terjadi, kita harus menjaga dan membesarkannya dengan baik."
Arman mengangguk, tapi di dalam hatinya, dia tahu bahwa kehidupan mereka akan berubah selamanya. Oziel bukanlah anak biasa, dan dia yakin bahwa keajaiban akan menyertai kehidupan mereka dari sekarang.
------------------------------
Bagaimana
kelanjutan kisah Oziel? Apa kekuatan luar biasa yang dimilikinya?
Ikuti terus petualangan Oziel si Bocah Cerdas dalam bagian
selanjutnya! Jangan lewatkan Bagian 2: "Mata Keemasan yang
Misterius", di mana Oziel mulai menunjukkan tanda-tanda
keajaiban yang membuat semua orang terkejut!
Bersambung...
Fadllan Achadan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomentar menggunakan bahasa yang baik dan sopan :-)