Kenangan yang Tak Pernah Luntur
Aku masih ingat dengan jelas hari itu. Hujan turun deras, seakan langit pun ikut menangis. Di sudut kamar yang remang, aku duduk memandangi selembar foto usang. Aku, seorang anak kecil berusia lima tahun, tersenyum lebar dalam dekapan seorang wanita dengan senyum paling tulus yang pernah kulihat. Itu foto aku dan Mama.
Aku tak pernah menyangka, senyum itu akan menjadi kenangan terakhir yang benar-benar utuh dalam ingatanku.
"Kenapa hidup begitu kejam, Ma? Kenapa semua harus berakhir begini?" bisikku pelan, mencoba menahan tangis yang kian menyesakkan dada.
Bagian 1: Keluarga yang Tak Lagi Sama
Keluargaku dulu bahagia. Aku, Mama, Ayah, Kak Rio, dan adik kecilku, Dinda. Kami bukan keluarga kaya, tapi Mama selalu bilang, "Kita punya cinta, dan itu lebih berharga dari emas sekalipun."
Mama — Nurma — adalah wanita kuat. Dia selalu bangun paling pagi, menyiapkan sarapan, memastikan kami siap ke sekolah, lalu bekerja di pasar. Mama tak pernah mengeluh. Senyumnya seolah menjadi cahaya yang membuat rumah kecil kami terasa hangat.
Ayah — Bapak Iwan — dulunya seorang pekerja bangunan. Tapi setelah kecelakaan yang membuat kakinya pincang, ia berubah. Dulu ayah penyayang, tapi sekarang hanya amarah yang tersisa. Mungkin karena merasa tak berguna.
Kak Rio — Rio — adalah kakak sulungku. Dia anak yang cerdas dan penuh ambisi. Cita-citanya jadi dokter demi bisa membahagiakan Mama. Tapi hidup tak selalu berpihak padanya.
Aku — Raka — anak tengah yang tak terlalu istimewa. Aku suka menulis dan bermimpi menjadi penulis hebat, meski sering diejek teman-teman karena mimpi yang dianggap konyol.
Adik kecilku, Dinda, adalah malaikat kecil kami. Dia masih terlalu polos untuk mengerti bahwa hidup kami pelan-pelan mulai hancur.
Bagian 2: Awal Dari Semua Luka
Hari itu berbeda dari biasanya. Mama pulang lebih cepat dengan wajah pucat. Tangannya gemetar saat memeluk kami.
“Ma, kenapa?” tanyaku.
Mama hanya tersenyum, tapi kali ini aku tahu itu senyum yang dipaksakan.
“Aku baik-baik saja, Nak.”
Ternyata Mama berbohong. Dia sakit. Kanker rahim stadium akhir. Dan parahnya, Mama tahu itu sejak lama, tapi memilih diam.
“Kalau Mama sakit, siapa yang jaga kalian?” katanya sambil menangis pelan, saat akhirnya kami semua tahu kenyataan itu.
Sejak itu, rumah kami penuh air mata. Ayah lebih banyak diam. Kak Rio mulai bekerja serabutan demi membantu biaya pengobatan. Aku, meski hanya anak SMP waktu itu, mulai berjualan kecil-kecilan di sekolah.
Dinda? Dia hanya tahu Mama sakit, tapi selalu percaya Mama akan sembuh.
Bagian 3: Perginya Ayah
Saat Mama mulai sering pingsan, Ayah seperti tak tahan lagi. Dia pulang semakin larut, kadang tidak pulang sama sekali.
Suatu malam aku memberanikan diri bertanya, "Yah, kenapa Ayah jarang di rumah? Mama butuh Ayah."
Ayah hanya menatapku lama, lalu berkata lirih, "Ayah nggak mau lihat Mama menderita."
Aku tidak mengerti saat itu. Aku pikir Ayah egois, meninggalkan kami di saat paling sulit.
Tapi kemudian aku tahu. Ayah pergi ke kota lain mencari pekerjaan. Meskipun kakinya pincang, dia memaksa bekerja sebagai buruh angkut di pelabuhan. Dia ingin mengumpulkan uang agar Mama bisa berobat.
Ayah tidak pernah cerita karena dia malu. Dia merasa gagal sebagai suami dan ayah.
Aku baru tahu semua itu setelah dia pulang dalam keadaan babak belur karena kecelakaan kerja.
Bagian 4: Kak Rio yang Berkorban Segalanya
Kak Rio, kakakku yang dulu bermimpi jadi dokter, kini berubah. Dia berhenti sekolah dan bekerja di bengkel. Tangannya yang dulu lincah menulis dan belajar, kini penuh minyak dan luka bakar.
“Kalau aku jadi dokter nanti, Mama keburu nggak ada. Jadi lebih baik aku kerja sekarang.”
Aku benci mendengar kata-kata itu. Aku benci dunia yang membuat Kak Rio mengubur mimpinya.
Kadang, saat malam, aku memergokinya menangis diam-diam di teras rumah. Aku tahu dia kelelahan. Aku tahu dia juga takut kehilangan Mama. Tapi dia selalu tersenyum di hadapan kami, seolah semua akan baik-baik saja.
Bagian 5: Mama Pergi
Hari itu Mama tak bangun dari tidurnya. Wajahnya pucat, napasnya lemah. Kami semua berkumpul di sampingnya.
“Raka... Dinda... Kak Rio... jaga diri kalian ya... Mama sayang kalian...”
Aku tak bisa menahan tangis. “Ma, jangan tinggalin kami... Aku butuh Mama...”
Mama tersenyum lemah. “Mama nggak pernah pergi, Nak. Mama akan selalu ada di hati kalian... Raka, tulislah kisah kita... biar dunia tahu... Mama bangga sama kalian.”
Air mata Mama jatuh perlahan. Senyum itu tetap ada di wajahnya, meski matanya perlahan tertutup.
Mama pergi.
Dunia seketika hampa. Rumah kami terasa kosong. Aku merasa setengah jiwaku ikut terkubur bersama Mama.
Bagian 6: Hidup yang Harus Terus Berjalan
Setelah Mama pergi, Ayah pulang untuk selamanya. Meski jalannya pincang, dia mencoba menjadi ayah yang lebih baik. Dia menyesal karena dulu sempat lari.
Kak Rio tetap bekerja di bengkel. Dia menolak tawaran pemilik bengkel untuk melanjutkan sekolah dengan beasiswa.
“Aku lebih butuh uang buat Raka dan Dinda. Sekolahku nggak penting lagi,” katanya sambil tersenyum kecil.
Aku benci senyum itu. Senyum yang menutupi luka besar dalam hatinya.
Aku mulai menulis. Aku menulis kisah tentang Mama. Tentang betapa hebatnya dia. Tentang bagaimana seorang wanita sederhana bisa menjadi pahlawan sejati bagi keluarganya.
Tulisan itu dimuat di sebuah majalah. Aku tak percaya. Di bawah tulisanku, ada kalimat yang paling menyentuh:
"Untuk Mama di surga, terima kasih atas cinta yang tak pernah habis."
Aku merasa Mama pasti tersenyum di sana.
Cinta yang Abadi
Kini, aku mengerti. Cinta Mama tak pernah hilang. Dia ada di setiap langkah kami, di setiap doa yang kami panjatkan. Kehilangan Mama adalah luka yang tak akan pernah benar-benar sembuh, tapi aku belajar satu hal penting: cinta yang tulus tidak pernah benar-benar pergi. Cinta itu tetap hidup, meski raganya telah tiada.
Aku ingin kamu yang membaca kisah ini merasakan hal yang sama.
Cobalah pejamkan matamu sebentar. Pikirkan ibumu. Bayangkan bagaimana wajahnya ketika dia tersenyum padamu. Ingatlah bagaimana tangannya yang lembut selalu siap membelai kepalamu saat kamu sedih. Rasakan bagaimana dia memelukmu erat setiap kali kamu jatuh dan menangis.
Ingatlah, setiap peluh yang menetes dari tubuhnya, setiap malam tanpa tidur yang ia lewati, dan setiap doa yang ia panjatkan diam-diam adalah wujud cinta yang tak terukur harganya. Ibu mungkin tak pernah meminta balasan apa pun, tapi tahukah kamu? Di dalam hatinya, ia hanya ingin satu hal: melihat anak-anaknya bahagia dan tumbuh menjadi orang baik.
Jangan tunggu sampai waktu merenggut kesempatan itu darimu.
Peluk ibumu sekarang, ucapkan "Aku mencintaimu, Bu." Jangan ragu atau merasa malu. Waktu tak pernah memberi jaminan kita bisa bertemu esok hari. Jangan sampai kamu menyesal karena belum sempat mengungkapkan perasaanmu.
Aku menyesal karena dulu terlalu sering sibuk dengan duniaku sendiri. Aku menyesal karena kadang merasa malu saat Mama menjemputku di sekolah dengan pakaian lusuh dari pasar. Aku menyesal karena tak pernah berkata "Aku bangga punya Mama sepertimu."
Aku tak ingin kamu mengalami penyesalan yang sama.
Kalau kamu bertengkar dengan ibumu, segeralah minta maaf. Tak ada ego yang lebih berharga daripada hubunganmu dengannya. Kalau kamu merasa malu karena ibumu sederhana, ingatlah — kesederhanaannya adalah bukti pengorbanan. Kalau kamu merasa ibumu cerewet, sadarilah — itu cara dia memastikan kamu baik-baik saja.
Hargai ibumu selagi masih ada waktu. Karena aku sudah belajar dengan cara paling menyakitkan, bahwa waktu adalah hal paling kejam di dunia.
Untuk kamu yang mungkin sudah kehilangan ibumu, seperti aku...
Jangan berhenti mendoakannya. Cinta tak berhenti hanya karena maut memisahkan. Setiap doa yang kita kirimkan akan sampai padanya. Setiap kebaikan yang kita lakukan akan menjadi cahaya bagi jalannya di alam sana.
Aku percaya, Mama pasti bangga melihat kami tetap bertahan. Aku percaya, dia tersenyum setiap kali aku menulis sesuatu yang bermanfaat. Dan aku percaya, dia masih menjagaku, meski aku tak bisa melihatnya.
Ibu adalah malaikat tanpa sayap yang Tuhan kirimkan. Dia mungkin lelah, dia mungkin sakit, tapi dia tak akan pernah berhenti mencintaimu.
Sekarang giliranmu. Jangan tunda lagi. Temui ibumu, peluk dia, dan katakan:
"Aku mencintaimu, Ibu. Terima kasih telah menjadi cahaya dalam hidupku."
Karena cinta seorang ibu tak akan pernah mati. Itu adalah cinta yang abadi.
Fadllan Achadan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomentar menggunakan bahasa yang baik dan sopan :-)