Bagian 5: Perjalanan Rahasia ke Gunung Merapi
Kabut pagi masih menyelimuti hutan seperti selimut tipis yang terus bergerak, menari-nari di antara batang pohon raksasa yang menjulang. Butiran embun berkilauan seperti kristal di dedaunan, memantulkan cahaya matahari pagi yang masih lemah. Udara terasa lembap dan berat, membawa aroma tanah basah yang bercampur dengan wangi bunga liar yang tumbuh di antara semak belukar.
Arman melangkah pelan di depan, parang kecil di tangannya berkilat ketika sesekali terkena sinar matahari yang menembus kanopi hutan. Setiap ayunannya memotong ranting dan tumbuhan merambat yang menghalangi jalan, meninggalkan jejak basah di tanah berlumut. Napasnya terdengar berat, tetapi matanya tetap waspada, terus memindai lingkungan sekitar.
Di belakangnya, Lina mengikuti dengan langkah hati-hati. Tangan kirinya erat memeluk Oziel yang digendong di dada, sementara tangan kanannya sesekali meraih dahan pohon untuk menyeimbangkan diri saat melewati tanah yang tidak rata. Oziel, bayi mungil itu, tampak tenang dalam dekapan ibunya. Namun, cahaya keemasan dari matanya yang setengah tertutup memberikan pancaran lembut, menerangi jalan di depan mereka seperti lentera ajaib. Cahaya itu seolah hidup, kadang berkedip pelan, seakan merespon sesuatu yang tak terlihat oleh mata biasa.
Tiba-tiba—
Krrrk!
Suara ranting besar patah di belakang mereka memecah kesunyian hutan. Burung-burung yang sebelumnya berkicau riuh tiba-tiba terbang meninggalkan dahan-dahannya, menciptakan kepakan sayap yang berdesing di udara. Suasana seketika berubah mencekam.
Lina berbalik dengan cepat, jantungnya berdegup kencang hingga nyaris terdengar di telinganya sendiri. Matanya membelalak, mencoba menembus kabut yang semakin tebal di belakang mereka. "Ada yang mengikuti kita," bisiknya, suaranya serak karena ketakutan. Tangannya yang bebas menggenggam lengan Arman dengan erat, jari-jarinya dingin seperti es.
Arman mengangguk pelan, matanya menyipit saat ia juga mendengarkan dengan seksama. Sejak pagi, ia merasakan sesuatu—atau seseorang—berada di sekitar mereka. Kadang terdengar suara dedaunan bergesek, seperti ada yang berjalan dengan hati-hati. Kadang bayangan cepat melintas di antara pepohonan, terlalu besar untuk menjadi hewan hutan biasa. Bahkan, beberapa kali ia melihat kilatan cahaya aneh di kejauhan, seperti pantulan dari logam atau kaca.
"Kita harus cepat sampai ke gua itu," katanya sambil melihat kembali peta misterius di tangannya. Kertas itu terasa dingin dan sedikit lembap, tetapi garis-garisnya tetap jelas, menunjukkan jalan berliku yang harus mereka tempuh.
Lina menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. "Arman, apa kau yakin kita tidak tersesat?"
Arman menghela napas, matanya tetap tertuju pada peta. "Gua itu seharusnya tidak jauh lagi. Menurut peta, kita harus menemukan sungai kecil dulu, lalu mengikutinya ke hulu."
Tiba-tiba, Oziel mengeluarkan suara kecil. Cahaya dari matanya berkedip lebih kuat, seolah merespon sesuatu. Lina melihat ke bawah, dan di sana—tersembunyi di balik semak-semak—sebuah batu besar dengan ukiran simbol aneh tergeletak di tepi jalan.
"Arman, lihat!" Lina menunjuk batu itu.
Arman mendekat dan membersihkan lumut yang menutupi permukaan batu. Di bawahnya, terukir jelas simbol yang sama dengan yang ada di peta mereka. "Ini penunjuk jalan," bisiknya. "Kita di jalur yang benar."
Namun, sebelum mereka bisa melanjutkan perjalanan, suara gemuruh rendah tiba-tiba menggema dari kejauhan. Tanah di bawah kaki mereka bergetar pelan, membuat dedaunan di sekitar berdesis seperti sedang memperingatkan sesuatu.
Lina memeluk Oziel lebih erat. "Apa itu?"
Arman mengangkat kepala, matanya menatap ke arah Gunung Merapi yang berdiri megah di kejauhan. Asap tipis terlihat mengepul dari puncaknya. "Gunung itu... sepertinya tidak sepenuhnya tidur."
Dengan perasaan was-was yang semakin menjadi, mereka melanjutkan perjalanan. Kabut semakin tebal, menyelimuti mereka seperti tembok yang tak terlihat. Suara-suara aneh terus mengikuti, dan kadang-kadang, dari sudut matanya, Arman bisa bersumpah melihat sosok-sosok tinggi berdiri di antara pepohonan—mengawasi.
"Kita harus tetap tenang," bisik Arman pada Lina. "Apa pun yang terjadi, jangan berlari. Kita tidak tahu apa yang ada di dalam kegelapan ini." Lina mengangguk, tetapi tangannya yang menggenggam Arman semakin erat.
"Kita harus cepat sampai ke gua itu," katanya sambil melihat kembali peta misterius di tangannya.
"Di sini," kata Arman, mengulurkan tangan untuk membantu Lina menuruni bebatuan licin.
Tiba-tiba, Oziel merengek dalam gendongan. Matanya yang keemasan tiba-tiba bersinar sangat terang, memantulkan cahaya ke dinding gua. Dan di sana—terlihat jelas—ukiran-ukiran kuno yang menggambarkan seorang anak dengan mata bercahaya, dikelilingi oleh sosok-sosok bertopeng.
"Lihat ini!" Lina berbisik takjub, menyentuh ukiran itu.
Sssst!
Suara desis tajam membuat mereka berduka. Dari kegelapan gua, muncul tiga sosok bertopeng kayu, mengenakan jubah dari daun-daun kering. Salah satu dari mereka melangkah maju.
"Kalian datang," suaranya dalam dan bergema, "untuk Anak Cahaya."
Di kedalaman gua, di ruangan yang diterangi kristal-kristal bercahaya, para Penjaga mengeluarkan sebuah peti kayu kuno. Ketika dibuka, terlihat sebuah peta kulit yang ternoda bercak-bercak coklat tua—darah.
"Peta ini," kata Penjaga tertinggi, "hanya bisa dibaca oleh darah keturunan Penjaga."
Lina terkesiap ketika salah satu Penjaga tiba-tiba menarik tangan Arman dan menggoreskan pisau kecil di telapaknya.
"Aduh! Apa yang—"
Tetesan darah Arman jatuh ke peta. Dan ajaibnya, darah itu bergerak sendiri, membentuk garis-garis yang menunjukkan jalan melalui lorong-lorong bawah gunung.
"Kau... kau adalah keturunan Penjaga?" Lina memandang suaminya dengan mata berbinar.
Arman sama terkejutnya. "Aku tidak tahu... ayahku tidak pernah—"
Boom!
Suara ledakan mengguncang gua. Debu-debu beterbangan dari langit-langit.
"Mereka menemukan kita!" teriak salah satu Penjaga.
Di luar, setidaknya selusin orang berseragam hitam sudah mengepung mulut gua. Dr. Sari berdiri di depan, memegang benda aneh yang mirip kompas tetapi dengan jarum yang terus menunjuk ke dalam gua—langsung ke arah Oziel.
"Keluarkan anak itu!" teriaknya. "Atas nama ilmu pengetahuan!"
Di dalam gua, Oziel tiba-tiba menjerit. Cahaya dari matanya memancar seperti sinar laser, menerangi tulisan-tulisan kuno di dinding gua yang selama ini tersembunyi. Tulisan itu berbunyi:
"Hanya yang terpilih bisa membuka jalan, dan hanya yang suci hatinya bisa mengendalikan kuasa."
Para Penjaga saling memandang.
"Anak itu... dia membuka Segel Pertama," bisik salah satu dari mereka dengan suara bergetar.
Lina memeluk Oziel erat-erat. "Apa maksudmu? Apa yang terjadi pada anakku?"
Penjaga tertua berlutut. "Kekuatannya mulai bangkit. Dan jika kita tidak segera sampai ke Puncak Merapi sebelum bulan purnama berikutnya..."
Boom!
Ledakan kedua lebih dekat. Batu-batu mulai runtuh dari langit-langit gua.
"Kita harus pergi! Sekarang!" teriak Arman, menarik tangan Lina.
Di belakang, teriakan Dr. Sari masih terdengar: "Kalian tidak bisa lari selamanya! Anak itu milik kami!"
Di dalam terowongan, Oziel yang biasanya tenang tiba-tiba mengeluarkan suara tawa kecil. Matanya yang bersinar memantulkan bayangan sesuatu yang besar—sangat besar—yang bergerak di kegelapan jauh di depan mereka.
Lina merinding. "Ada... ada sesuatu di depan kita."
Penjaga tertua berbisik pelan, suaranya penuh hormat dan takut:
"Penunggu Terowongan. Dia hanya membiarkan yang terpilih lewat."
Arman menelan ludah. "Dan bagaimana kita tahu apakah kita terpilih?"
Sebelum siapa pun bisa menjawab, Oziel mengulurkan tangan mungilnya ke depan, dan cahaya keemasan memancar—menerangi sosok raksasa berbentuk ular naga dengan mata merah menyala yang sedang melingkar di tengah terowongan.
Makhluk itu mendesis, lalu...
...menunduk.
"Astaga," Lina berbisik, "dia... dia memberi hormat pada Oziel."
------------------------------
"Mengapa para Penjaga begitu takut pada bulan purnama? Dan siapakah 'Mereka' yang terus disebut-sebut dalam tulisan kuno di gua? Temukan jawabannya dalam petualangan berikutnya, Bagian 6: Kebangkitan Kekuatan Terlarang!"
✨ Bonus Teaser:
Rahasia mengerikan yang disembunyikan di Kawah Merapi
Pengorbanan tak terduga yang harus dilakukan Arman
Ketika Lina akhirnya mengetahui kebenaran tentang darahnya sendiri
Bersambung...
Fadllan Achadan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomentar menggunakan bahasa yang baik dan sopan :-)