Bagian 4: Pertemuan dengan Sang Penjaga
Tiga hari telah berlalu sejak Arman dan Lina melarikan diri dari Pusat Penelitian. Rumah kayu tua yang terletak di tengah hutan belantara itu menjadi satu-satunya tempat perlindungan mereka—sebuah bangunan reyot dengan dinding yang berderai dan atap yang bocor di beberapa tempat, seolah-olah memprotes setiap hembusan angin malam yang menerpanya.
Di luar, hutan hidup dengan caranya sendiri saat matahari tenggelam. Suara jangkrik dan desiran daun yang awalnya terasa menenangkan, perlahan berubah menjadi orkestra mencekam ketika kegelapan menyelimuti pepohonan. Bunyi-bunyi itu bergema di antara batang-batang pohon raksasa yang menjulang, seakan-akan alam sendiri sedang berbisik dalam bahasa yang tak bisa dimengerti manusia. Kadang-kadang, terdengar suara ranting patah atau gerakan gesit di semak belukar—entah itu hewan kecil yang sedang mencari makan, atau sesuatu yang lebih besar, lebih berbahaya, yang mengintai dari balik kegelapan.
Malam ini, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis mulai merayap dari dasar hutan, menyelimuti akar-akar pohon yang berkelok seperti tangan-tangan kusam yang mencengkeram tanah. Bulan purnama tergantung di antara dahan-dahan, memantulkan cahaya pucat yang hanya cukup untuk membuat bayangan-bayangan di sekitar rumah terlihat semakin hidup. Setiap bayangan itu bergerak-gerak, berubah bentuk, seolah memiliki niat sendiri.
Lina menggigil ketika angin malam berdesir masuk melalui celah-celah jendela yang tak tertutup rapat. Dia menarik selimut lebih erat ke tubuhnya sambil memandang Oziel yang tertidur di boks kayu sederhana. Cahaya keemasan dari mata bayi itu kadang masih terlihat samar-samar di balik kelopaknya, seperti kunang-kunang yang tak mau padam.
"Arman, kau dengar itu?" bisik Lina tiba-tiba, matanya menatap gelapnya jendela.
Arman mengangkat kepala dari peta yang sedang ia pelajari. "Dengar apa?"
"Suara... seperti langkah kaki."
Udara di dalam rumah seketika terasa lebih berat. Arman mengerutkan kening, mencoba menyaring setiap suara dari luar. Untuk sesaat, hanya ada keheningan. Lalu—
Kreek...
Suara itu jelas. Seperti kayu terinjak. Dekat.
Arman segera berdiri, tangannya refleks meraiah golok pendek yang selalu ia simpan di samping pintu. Lina menarik Oziel dari boksnya dan mendekapnya erat-erat, jantungnya berdegup kencang hingga ia bisa mendengarnya di telinganya sendiri.
"Jangan keluar," desis Lina, suaranya bergetar.
Tapi Arman sudah melangkah ke arah jendela. Perlahan, ia mengintip keluar.
Di antara pepohonan, sekitar lima meter dari rumah, sebuah bayangan tinggi berdiri tak bergerak—lebih gelap dari kegelapan malam itu sendiri.
Dan sepasang mata biru menyala menatap langsung ke arahnya.
Tiba-tiba, pintu rumah terbuka sendiri dengan suara berderit. Angin malam yang dingin menerpa wajah mereka. Di halaman depan, berdiri sosok tinggi berpakaian jubah putih yang berkibar-kibar diterpa angin. Wajahnya tersembunyi dalam bayangan, tetapi sepasang mata biru bercahaya terlihat jelas menatap mereka.
"Jangan takut," suara laki-laki itu terdengar seperti gemerisik daun kering. "Aku datang sebagai Penjaga."
Lina menggenggam lengan Arman dengan erat. "Siapa... siapa Anda?" tanyanya dengan suara bergetar.
Sosok itu melangkah mendekat, dan cahaya bulan akhirnya menyinari wajahnya. Seorang pria tua dengan janggut putih panjang, kulitnya seperti kulit pohon yang berkeriput, tetapi matanya memancarkan kebijaksanaan yang tak terhingga.
"Aku adalah Penjaga Anak Cahaya," ujarnya sambil menunduk hormat. "Aku yang mengutus Malaikat untuk memberkati kelahiran Oziel."
Arman seketika teringat kakek tua yang pernah ditolongnya. "Jadi... jadi itu benar-benar..."
"Ya," sang Penjaga mengangguk. "Dan sekarang, waktunya telah tiba untuk kalian mengetahui takdir sebenarnya dari Oziel."
Dengan gerakan tangan, sang Penjaga membuat udara di depan mereka bergetar dan membentuk gambaran-gambaran seperti mimpi. Mereka melihat pemandangan dunia di masa depan - kota-kota hancur, manusia saling membunuh, bumi yang sekarat. Kemudian muncul bayangan Oziel yang sudah dewasa, berdiri di tengah-tengah kehancuran dengan tangan terangkat, memancarkan cahaya keemasan yang menyembuhkan bumi.
"Oziel adalah Anak Penyelamat," kata sang Penjaga dengan suara berat. "Dia lahir untuk mencegah kiamat yang akan datang 25 tahun lagi."
Lina menangis tersedu-sedu. "Tapi... dia hanya anak kecil! Kenapa harus dia?"
Sang Penjaga menghela napas. "Takdir tidak pernah salah, Ibu. Kekuatan Oziel akan tumbuh seiring waktu, dan kalian harus melindunginya dari mereka yang ingin memanfaatkan kekuatannya untuk kejahatan."
Arman menguatkan hatinya. "Apa yang harus kami lakukan?"
"Pertama, kalian harus pergi ke Gunung Merapi," ujar sang Penjaga. "Di sana ada komunitas Penjaga rahasia yang akan melindungi kalian dan melatih Oziel."
Tiba-tiba, sang Penjaga menengadah ke langit dengan wajah waspada. "Mereka datang! Cepat, bersiaplah!"
Dari kejauhan, terdengar suara helikopter mendekat. Lampu sorot mulai menyapu hutan di sekitar rumah.
"Para pemburu dari Pusat Penelitian," sang Penjaga berbisik. "Aku akan menahan mereka. Kalian harus pergi sekarang!"
Dengan gerakan tangannya, sebuah peta muncul di udara lalu tercetak di telapak tangan Arman. "Ikuti jalan ini. Aku akan menemui kalian lagi di kaki gunung."
Saat helikopter semakin dekat, sang Penjaga mengangkat tangannya. Kabut tebal tiba-tiba muncul dari tanah, menyelimuti seluruh area rumah. Suara mesin helikopter tiba-tiba menjauh, seolah-olah tersesat dalam kabut.
"Pergi! Sekarang!" teriak sang Penjaga sambil tubuhnya mulai bercahaya.
Arman dan Lina segera mengemasi barang seperlunya. Oziel yang masih dalam gendongan Lina kini matanya bersinar lebih terang dari sebelumnya, seolah-olah memahami situasi genting yang terjadi.
Mereka keluar dari rumah melalui pintu belakang dan berlari menuju hutan. Di belakang mereka, kilatan-kilatan cahaya dan suara ledakan terdengar, tetapi mereka tidak berani menengok. Hutan yang gelap menjadi saksi bisu keluarga kecil itu yang berlari menyelamatkan nyawa dan takdir dunia.
Setelah berjam-jam berjalan, mereka akhirnya berhenti di sebuah sungai kecil. Arman melihat peta misterius di tangannya yang menunjukkan jalan rahasia melalui gua-gua bawah tanah.
"Kita harus terus berjalan," kata Arman sambil menatap Lina yang kelelahan. "Kita hampir sampai."
Lina mengangguk, meski air mata terus mengalir di pipinya. Dia menatap Oziel yang kini tertidur pulas dalam gendongannya. "Apa kita bisa melewati semua ini, Arman?"
Arman merangkul istrinya. "Kita harus bisa. Untuk Oziel. Untuk dunia."
Di kejauhan, fajar mulai menyingsing. Sinar jingga pertama menyentuh puncak Gunung Merapi yang megah, seolah-olah menyambut kedatangan mereka. Perjalanan panjang baru saja dimulai, dan bahaya-bahaya baru menanti.
Namun di tengah semua ketakutan itu, satu hal yang mereka yakini - Oziel adalah harapan terakhir, dan sebagai orang tua, mereka akan melakukan apapun untuk melindunginya.
------------------------------
"Ketika keluarga kecil itu melangkah lebih dalam ke hutan gelap, menuju lereng Gunung Merapi yang penuh rahasia, siapa sangka bahwa bahaya yang mengintai bukan hanya datang dari para pemburu mereka? Siapakah sosok-sosok bayangan yang terus mengikuti jejak mereka, bergerak senyap di antara pepohonan seperti asap hitam yang hidup? Dan mengapa Oziel tiba-tiba tersenyum dalam tidurnya, seolah mendengar bisikan-bisikan dari dunia yang tak terlihat?
Jangan lewatkan Bagian 5: "Perjalanan Rahasia ke Gunung Merapi", di mana:
Sebuah peta kuno berdarah terungkap dari ingatan Oziel yang misterius
Arman harus menghadapi pilihan mengerikan: mengorbankan nyawanya atau membiarkan kekuatan Oziel jatuh ke tangan yang salah
Lina menemukan kebenaran mengejutkan tentang asal-usul anaknya... dan mengapa para Penjaga sebenarnya TAKUT pada Oziel!
Siapakah yang bisa dipercaya ketika hutan sendiri seolah ingin menelan mereka hidup-hidup? Temukan jawabannya dalam petualangan penuh kejutan berikutnya!"
✨ Bonus Teaser:
"Di gua terdalam Gunung Merapi, ada pintu yang tidak boleh dibuka—tapi Oziel sudah memanggilnya dalam mimpi..."
Bersambung...
Fadllan Achadan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomentar menggunakan bahasa yang baik dan sopan :-)