Bagian 3: Ujian Pertama
Setelah kejadian malam itu, suasana di rumah Arman dan Lina menjadi lebih tegang. Pak Joko, yang awalnya begitu percaya diri dengan pengetahuannya tentang fenomena paranormal, kini terlihat gugup setiap kali berada di dekat Oziel. Meski demikian, dia tetap bersikeras untuk membantu keluarga itu, meski Arman dan Lina mulai mempertanyakan niatnya.
"Arman, aku tidak yakin tentang Pak Joko," bisik Lina suatu malam saat mereka berdua duduk di ruang tamu. Oziel sudah tertidur di kamarnya, dan Pak Joko sedang berada di kamar tamu. "Dia terlihat... aneh. Seperti dia menyembunyikan sesuatu."
Arman menghela napas. "Aku juga merasakan hal yang sama, Lin. Tapi kita butuh bantuan. Kita tidak bisa menghadapi semua ini sendirian."
Lina mengangguk, tapi raut wajahnya masih menunjukkan kekhawatiran. "Aku hanya takut kalau dia punya niat buruk terhadap Oziel."
Arman memegang tangan istrinya. "Kita akan tetap waspada. Jika ada sesuatu yang mencurigakan, kita akan mengusirnya."
Keesokan harinya, Pak Joko mengusulkan untuk membawa Oziel ke sebuah tempat yang dia sebut sebagai "Pusat Penelitian Anak Cahaya". Menurutnya, tempat itu adalah fasilitas khusus yang didedikasikan untuk memahami dan membimbing anak-anak seperti Oziel.
"Di sana, Oziel akan mendapatkan bimbingan yang tepat," kata Pak Joko dengan penuh keyakinan. "Kalian tidak perlu khawatir. Saya akan menemani kalian."
Arman dan Lina saling memandang, tidak yakin dengan usulan itu. Tapi mereka juga tahu bahwa mereka tidak punya banyak pilihan. Mereka memutuskan untuk mengikuti saran Pak Joko, tapi dengan syarat mereka akan tetap mengawasi setiap langkahnya.
Perjalanan ke Pusat Penelitian Anak Cahaya memakan waktu beberapa jam. Tempat itu terletak di sebuah bangunan besar yang dikelilingi oleh pagar tinggi dan penjagaan ketat. Saat mereka tiba, Arman dan Lina merasa semakin tidak nyaman. Suasana tempat itu terasa dingin dan menyeramkan.
"Kenapa tempat ini seperti penjara?" bisik Lina pada Arman sambil memeluk Oziel lebih erat.
"Aku tidak tahu, Lin," jawab Arman sambil memandang sekeliling dengan waspada. "Tapi kita harus tetap tenang."
Mereka dibawa ke sebuah ruangan yang dingin dan steril, dipenuhi dengan peralatan medis berteknologi tinggi yang memancarkan suara berdengung rendah. Dindingnya dilapisi layar-layar monitor yang menampilkan data-data asing, dan di tengah ruangan, terdapat sebuah meja logam besar yang terlihat seperti altar untuk eksperimen. Suasana ruangan itu begitu menekan, membuat Lina menggigil ketakutan. Dia memeluk Oziel lebih erat, merasakan detak jantung kecil anaknya yang semakin cepat.
Oziel, yang selama ini terlihat tenang, tiba-tiba mulai rewel. Tangisannya melengking, dan matanya yang keemasan mulai bersinar dengan intensitas yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Cahaya itu seperti memancarkan energi, membuat udara di sekitar mereka terasa berat.
"Arman, aku tidak suka ini," bisik Lina, suaranya gemetar. Dia menatap suaminya dengan mata yang penuh ketakutan. "Ada yang tidak beres. Ayo kita pergi dari sini."
Arman mengangguk, wajahnya tegang. Dia merasakan hal yang sama. "Kita harus pergi. Sekarang."
Tapi sebelum mereka sempat bergerak, beberapa petugas berbadan besar mendekati mereka dengan langkah tegas. Salah satu dari mereka, seorang pria bertubuh kekar dengan wajah dingin, mengulurkan tangannya ke arah Oziel.
"Letakkan anak itu di meja," perintahnya dengan suara datar, tanpa emosi.
Lina mundur selangkah, memeluk Oziel lebih erat lagi. "Jangan sentuh anakku!" teriaknya, suaranya penuh kepanikan.
Arman segera melangkah maju, melindungi istri dan anaknya. "Kalian tidak punya hak untuk melakukan ini! Kami tidak setuju dengan ini!"
Pak Joko, yang selama ini diam, tiba-tiba berubah sikap. Wajahnya yang biasanya ramah kini terlihat dingin dan tanpa ekspresi. "Kalian harus mendengarkan mereka," katanya dengan suara yang menusuk. "Ini untuk kebaikan Oziel. Dia terlalu berharga untuk dibiarkan begitu saja."
Arman marah. "Kalian semua gila! Kami akan membawa Oziel pulang!"
Tiba-tiba, pintu ruangan itu tertutup dengan suara keras, mengunci mereka di dalam. Beberapa petugas lainnya menghalangi jalan keluar, wajah mereka kosong dan tanpa belas kasihan. Arman dan Lina merasa terjebak, seperti hewan yang terpojok.
Dr. Sari, yang selama ini diam, melangkah maju. Wajahnya terlihat dingin dan penuh perhitungan. "Kalian tidak punya pilihan," katanya dengan suara yang datar namun mengancam. "Oziel adalah subjek penelitian yang sangat berharga. Kekuatannya bisa mengubah dunia. Dan kami tidak akan membiarkan kalian menghalangi itu."
Lina menangis, air matanya mengalir deras. Dia memeluk Oziel erat-erat, seolah-olah takut anaknya akan direnggut darinya. "Jangan sentuh anakku! Dia bukan benda untuk kalian eksperimen!"
Oziel, yang selama ini terus menangis, tiba-tiba diam. Matanya yang keemasan bersinar sangat terang, memancarkan cahaya yang menyilaukan. Ruangan itu seolah-olah bergetar, dan semua peralatan elektronik mati seketika. Layar-layar monitor padam, dan suara dengungan mesin berhenti tiba-tiba.
Para petugas dan peneliti terpana, tidak bisa bergerak. Mereka seperti terpaku di tempat, wajah mereka dipenuhi ketakutan dan ketidakpercayaan. Dr. Sari mencoba berbicara, tapi suaranya teredam, seperti ada kekuatan tak terlihat yang menahannya.
Arman dan Lina, meski terkejut, segera menyadari bahwa ini adalah kesempatan mereka. "Ayo, Lin! Kita harus pergi!" teriak Arman sambil menarik tangan istrinya.
Mereka berlari ke pintu, yang sekarang terbuka lebar, dan keluar dari ruangan itu. Suara teriakan dan langkah kaki bergegas terdengar di belakang mereka, tapi mereka tidak peduli. Satu-satunya fokus mereka adalah melarikan diri.
Mereka berlari menuju mobil mereka, sambil terus memeluk Oziel. Lina hampir terjatuh beberapa kali, tapi Arman terus memegang tangannya, menariknya untuk terus berlari. Saat mereka sampai di mobil, Arman segera menghidupkan mesin dan melaju kencang meninggalkan tempat itu.
"Kita harus pergi jauh dari sini," kata Arman sambil memandang ke belakang melalui kaca spion. Wajahnya penuh ketegangan, dan tangannya menggenggam kemudi dengan erat. "Mereka tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkan Oziel."
Lina mengangguk, sambil menenangkan Oziel yang mulai tenang kembali. Dia menatap anaknya dengan mata yang penuh kekhawatiran. "Apa yang sebenarnya mereka inginkan dari Oziel? Apa yang akan mereka lakukan padanya?"
Arman menghela napas. "Aku tidak tahu, Lin. Tapi kita tidak bisa mempercayai siapa pun lagi. Kita harus melindungi Oziel sendiri."
Mereka memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat terpencil, jauh dari kota dan orang-orang yang mungkin ingin memanfaatkan Oziel. Setelah berjam-jam berkendara, mereka akhirnya tiba di sebuah rumah kecil di tengah hutan. Tempat itu adalah milik kakek Arman, yang sudah lama tidak dihuni.
"Kita akan aman di sini," kata Arman sambil membawa barang-barang mereka ke dalam rumah. "Setidaknya untuk sementara waktu."
Lina mengangguk, sambil memandang Oziel yang sudah tertidur di pelukannya. "Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Arman? Kita tidak bisa terus bersembunyi."
Arman duduk di samping istrinya, memandang anak mereka dengan penuh kasih sayang. "Kita akan mencari cara untuk memahami kekuatan Oziel. Tapi kali ini, kita akan melakukannya sendiri. Tanpa bantuan orang lain."
Malam itu, saat mereka semua sudah tidur, Oziel tiba-tiba terbangun. Matanya yang keemasan bersinar terang, dan dia seolah-olah mendengar sesuatu yang tidak bisa didengar oleh orang lain. Dia merangkak keluar dari boksnya dan menuju ke jendela.
Di luar, di tengah kegelapan hutan, ada sosok bayangan yang menatapnya. Sosok itu adalah kakek tua yang pernah ditemui Arman sebelum Oziel lahir. Kakek itu tersenyum lembut, seolah-olah memberikan pesan tanpa kata.
Oziel menatapnya dengan penuh perhatian, seolah-olah memahami sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Lalu, cahaya keemasan di matanya meredup, dan dia kembali ke boksnya, tertidur dengan tenang.
Esok paginya, Arman dan Lina bangun dengan perasaan yang lebih tenang. Mereka tahu bahwa perjalanan mereka masih panjang, tapi mereka juga tahu bahwa mereka tidak sendirian. Ada kekuatan yang lebih besar yang melindungi mereka dan Oziel.
------------------------------
Apa yang akan terjadi selanjutnya dengan Oziel? Siapa sosok bayangan yang menatapnya di malam itu? Ikuti terus petualangan Oziel si Bocah Cerdas dalam bagian selanjutnya! Jangan lewatkan Bagian 4: "Pertemuan dengan Sang Penjaga", di mana rahasia di balik kekuatan Oziel mulai terungkap!
Bersambung...
Fadllan Achadan
Monggo kakak-kakak, adik-adik, mas-mas, mbak-mbak, om dan tante, silahkan memberikan komentar nya, 😊.
BalasHapusPartisipasi panjenengan semua adalah motivasi berharga bagi kami. 👍