Cari Blog Ini


Sabtu, 29 Maret 2025

Anak Buaya yang Nakal

Di tepi Sungai Cana, di tengah hutan yang rimbun, hiduplah sekelompok buaya. Di antara mereka, ada satu anak buaya yang paling nakal dan suka bermain-main. Namanya adalah Budi. Budi memiliki kulit berwarna hijau cerah dan mata yang selalu bersinar penuh rasa ingin tahu. Namun, sifat nakalnya sering membuatnya terlibat dalam berbagai masalah.

Suatu pagi yang cerah, Budi bangun dengan semangat. Ia melihat teman-temannya, si Kiki dan si Amir, sedang bermain di tepi sungai. "Ayo, kita bermain petak umpet!" seru Budi dengan suara ceria. Kiki dan Amir, meskipun sedikit ragu, akhirnya setuju untuk bermain.

Mereka mulai bermain, dan Budi yang ditunjuk sebagai pencari, menutup matanya dan menghitung sampai sepuluh. "Satu, dua, tiga..." Budi menghitung dengan suara keras, sementara Kiki dan Amir bersembunyi di balik semak-semak. Namun, saat menghitung, Budi merasa ada yang kurang seru. Ia ingin membuat permainan ini lebih menarik.

Selamat Idul Fitri 1446 H


Jumat, 28 Maret 2025

Anak Singa yang Baik Hati

Di tengah hutan lebat yang hijau dan rimbun, hiduplah seekor anak singa bernama Lio. Ia adalah seekor singa muda dengan bulu keemasan yang berkilauan di bawah sinar matahari. Meskipun ia masih kecil, tubuhnya sudah kuat dan matanya penuh semangat. Namun, tidak seperti singa lainnya yang gagah dan garang, Lio memiliki hati yang lembut dan penuh kasih.

Sejak kecil, Lio selalu diajarkan oleh ibunya, Ratu Singa, untuk menjadi pemimpin yang bijaksana. "Kekuatan bukan hanya tentang cakar yang tajam dan auman yang menggetarkan, tetapi juga tentang kebaikan hati," kata ibunya suatu hari. Lio mendengarkan dengan saksama dan selalu mengingat pesan itu dalam hatinya.

Suatu pagi, saat matahari mulai menyapa hutan dengan cahayanya yang hangat, Lio berjalan-jalan di sekitar wilayah kekuasaannya. Ia senang menjelajahi hutan, mendengar kicauan burung, dan merasakan angin sejuk yang membelai bulunya. Namun, saat melewati sebuah sungai kecil, ia mendengar suara tangisan yang lirih.

Oziel si Bocah Cerdas: Kelahiran Yang Luar Biasa (Bagian 7)

Bagian 7: Kebangkitan Sang Penakluk

Ruangan itu terdiam sejenak, seolah waktu berhenti untuk mengingat kembali apa yang baru saja terjadi. Lina, yang terperangkap dalam lautan darah dan kesedihan, menatap makhluk yang kini mengenakan kulit anaknya. Wajah itu, meski tampak seperti Oziel, tidak lagi memiliki kehangatan dan kepolosan yang pernah ada. Sebaliknya, ada kegelapan yang dalam, seolah jiwa anaknya telah sepenuhnya ditelan oleh kekuatan yang mengerikan.

"AKU... BANGKIT..." suara itu menggema, menggetarkan dinding-dinding Ruang Pemurnian. Makhluk itu melangkah maju, setiap gerakannya mengeluarkan suara berderak seperti tulang yang patah. Lina merasakan jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melarikan diri dari tubuhnya.

"Siapa kau?" Lina berteriak, suaranya penuh ketakutan dan kemarahan. "Apa yang kau lakukan pada anakku?!"

Kamis, 27 Maret 2025

Oziel si Bocah Cerdas: Kelahiran Yang Luar Biasa (Bagian 6)

Bagian 6: Kebangkitan Kekuatan Terlarang

Terowongan itu menyempit seperti tenggorokan raksasa yang sedang menelan mereka hidup-hidup. Dinding basahnya mengeluarkan tetesan air yang jatuh satu-satu, bunyinya bergema seperti detak jam kematian. Setiap langkah mereka mengganggu debu-debu kuno yang langsung menari liar di sinar kristal biru pucat yang menyala-nyala di dinding, seolah ribaan mata tak kasat mata sedang mengawasi pergerakan mereka.

Lina merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya. Oziel dalam gendongannya tiba-tiba menggeliat, tubuh mungilnya tegang seakan merasakan sesuatu yang tak bisa mereka lihat. Cahaya keemasan dari mata anak itu memancar semakin terang, menyapu dinding terowongan dan mengungkap ukiran-ukiran kuno yang selama ini tersembunyi - gambar anak-anak dengan mata bersinar yang dirantai, disembah, atau... dikorbankan.

Selasa, 25 Maret 2025

Oziel si Bocah Cerdas: Kelahiran Yang Luar Biasa (Bagian 5)

Bagian 5: Perjalanan Rahasia ke Gunung Merapi

Kabut pagi masih menyelimuti hutan seperti selimut tipis yang terus bergerak, menari-nari di antara batang pohon raksasa yang menjulang. Butiran embun berkilauan seperti kristal di dedaunan, memantulkan cahaya matahari pagi yang masih lemah. Udara terasa lembap dan berat, membawa aroma tanah basah yang bercampur dengan wangi bunga liar yang tumbuh di antara semak belukar.

Arman melangkah pelan di depan, parang kecil di tangannya berkilat ketika sesekali terkena sinar matahari yang menembus kanopi hutan. Setiap ayunannya memotong ranting dan tumbuhan merambat yang menghalangi jalan, meninggalkan jejak basah di tanah berlumut. Napasnya terdengar berat, tetapi matanya tetap waspada, terus memindai lingkungan sekitar.

Senin, 24 Maret 2025

Oziel si Bocah Cerdas: Kelahiran Yang Luar Biasa (Bagian 4)

Bagian 4: Pertemuan dengan Sang Penjaga

Tiga hari telah berlalu sejak Arman dan Lina melarikan diri dari Pusat Penelitian. Rumah kayu tua yang terletak di tengah hutan belantara itu menjadi satu-satunya tempat perlindungan mereka—sebuah bangunan reyot dengan dinding yang berderai dan atap yang bocor di beberapa tempat, seolah-olah memprotes setiap hembusan angin malam yang menerpanya.

Di luar, hutan hidup dengan caranya sendiri saat matahari tenggelam. Suara jangkrik dan desiran daun yang awalnya terasa menenangkan, perlahan berubah menjadi orkestra mencekam ketika kegelapan menyelimuti pepohonan. Bunyi-bunyi itu bergema di antara batang-batang pohon raksasa yang menjulang, seakan-akan alam sendiri sedang berbisik dalam bahasa yang tak bisa dimengerti manusia. Kadang-kadang, terdengar suara ranting patah atau gerakan gesit di semak belukar—entah itu hewan kecil yang sedang mencari makan, atau sesuatu yang lebih besar, lebih berbahaya, yang mengintai dari balik kegelapan.

Minggu, 23 Maret 2025

Oziel si Bocah Cerdas: Kelahiran Yang Luar Biasa (Bagian 3)

Bagian 3: Ujian Pertama

Setelah kejadian malam itu, suasana di rumah Arman dan Lina menjadi lebih tegang. Pak Joko, yang awalnya begitu percaya diri dengan pengetahuannya tentang fenomena paranormal, kini terlihat gugup setiap kali berada di dekat Oziel. Meski demikian, dia tetap bersikeras untuk membantu keluarga itu, meski Arman dan Lina mulai mempertanyakan niatnya.

"Arman, aku tidak yakin tentang Pak Joko," bisik Lina suatu malam saat mereka berdua duduk di ruang tamu. Oziel sudah tertidur di kamarnya, dan Pak Joko sedang berada di kamar tamu. "Dia terlihat... aneh. Seperti dia menyembunyikan sesuatu."

Sabtu, 22 Maret 2025

Oziel si Bocah Cerdas: Kelahiran Yang Luar Biasa (Bagian 2)

Bagian 2: Mata Keemasan yang Misterius

Setelah kelahiran Oziel, kehidupan Arman dan Lina berubah drastis. Bayi kecil itu tumbuh dengan cepat, dan ada sesuatu yang berbeda tentangnya. Mata Oziel, yang sejak lahir memancarkan cahaya keemasan, menjadi pusat perhatian. Setiap kali dia menatap seseorang, seolah-olah dia bisa melihat langsung ke dalam jiwa mereka. Arman dan Lina mulai menyadari bahwa anak mereka bukanlah anak biasa.

Suatu pagi, saat Lina sedang menyusui Oziel, dia memperhatikan sesuatu yang aneh. Cahaya keemasan di mata Oziel tiba-tiba menjadi lebih terang, dan ruangan itu seolah-olah dipenuhi dengan kehangatan yang menenangkan. Lina merasa ada sesuatu yang ajaib terjadi, tapi dia tidak bisa menjelaskannya.

Jumat, 21 Maret 2025

Oziel si Bocah Cerdas: Kelahiran Yang Luar Biasa

Bagian 1: Pertemuan dengan Sang Malaikat

Malam itu, langit tampak gelap gulita, hanya diterangi oleh cahaya bulan purnama yang memancar lembut, seolah-olah alam semesta sedang menahan napas menanti kehadiran sang bayi. Bintang-bintang yang biasanya berkelap-kelip seakan bersembunyi di balik awan tebal, meninggalkan bulan sebagai satu-satunya saksi bisu dari peristiwa penting yang akan segera terjadi. Angin berhembus sepoi-sepoi, membawa hawa dingin yang menusuk tulang, membuat dedaunan di pepohonan bergemerisik seperti bisikan-bisikan rahasia yang hanya bisa dimengerti oleh malam.

Rabu, 19 Maret 2025

Aku Mencintaimu, Mama Tersayang

Kenangan yang Tak Pernah Luntur

Aku masih ingat dengan jelas hari itu. Hujan turun deras, seakan langit pun ikut menangis. Di sudut kamar yang remang, aku duduk memandangi selembar foto usang. Aku, seorang anak kecil berusia lima tahun, tersenyum lebar dalam dekapan seorang wanita dengan senyum paling tulus yang pernah kulihat. Itu foto aku dan Mama.

Aku tak pernah menyangka, senyum itu akan menjadi kenangan terakhir yang benar-benar utuh dalam ingatanku.

"Kenapa hidup begitu kejam, Ma? Kenapa semua harus berakhir begini?" bisikku pelan, mencoba menahan tangis yang kian menyesakkan dada.